Mengungkap Misteri Malam Seribu Bulan


Mengungkap Misteri Malam Seribu Bulan

Teodisi.com : Bulan Ramadhan dalam penanggalan Hijriah diyakini oleh umat Islam sebagai bulan suci karena pada bulan ini, tepatnya pada malam ke-17, wahyu dari Allah SWT pertama kali diturunkan kepada ummat manusia melalui hamba pilihan-Nya, Muhammad SAW yang mana peristiwa tersebut sekaligus merupakan peristiwa penunjukan Muhammad sebagai Rasulullah yang mengemban misi untuk menyampaikan risalah-Nya bagi ummat manusia

Peristiwa inilah yang hari ini dikenal sebagai Lailatul Qadar, Berpijak pada sejarah tersebut, ummat Islam di seluruh dunia yakin bahwa Lailatul Qadar adalah momen sakral yang memiliki keistimewaan tersendiri yang bahkan teramat sangat istimewa

Sehingga memunculkan satu keyakinan bahwa siapapun yang berada pada momen tersebut akan mendapatkan keistimewaan pula dalam hal level keimanan. Namun, sampai hari ini belum ada kesepakatan para ulama mengenai deskripsi konkrit seputar Lailatul Qadar.

Menyibak Tabir Malam Seribu Bulan

Yang ada hanya berbagai macam dugaan yang bersifat spekulatif guna mendeskripsikan segala sesuatu yang menyangkut malam yang istimewa tersebut. Hal-hal yang menyangkut dugaan tersebut umumnya meliputi kondisi, situasi dan siapa saja yang berhak mengalami peristiwa spiritual suci Lailatul Qadar

Lantas apakah sebenarnya Lailatul Qadar, Malam Seribu Bulan yang pertemuannya sangat didambakan oleh hampir semua ummat Islam di dunia itu?

Mari kita simak penjelasan berikut ini :

Secara terminologi bahasa, Lailatul Qadar yang berasal dari bahasa Arab terdiri dari dua kata, yaitu lail yang berarti malam dan qadar yang berarti ketentuan, takaran, ukuran sehingga rangkaian dari dua kata tersebut jika diartikan adalah “malam yang telah terukur atau malam yang telah pasti”. Atau lebih sederhana lagi arti dari Lailatul Qadar adalah “Malam Kepastian”

Lantas, jika berarti ”Malam kepastian”, kepastian tentang hal apa?

Untuk memahami lebih dalam dan terperinci, mari kita dengar penjelasan yang bersumber langsung dari Al-Qur’an yang merupakan kitab suci ummat Islam pada surah Al-Qadr (97): 1-5 berikut ini:

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Quran pada malam kemuliaan
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan
Pada malam itu turun para malaikat dan Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan
Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar

Surah Al-Qadr, seperti juga surah-surah lain yang tertera di dalam Al-Qur’an, adalah informasi kewahyuan yang berfungsi sebagai pedoman bagi ummat manusia. Untuk memahami makna pasti yang tersirat pada surah Al-Qadr perlu kiranya kita hubungkan dengan sejarah perjalanan Rasulullah Muhammad SAW dalam menegakkan Din Al-Islam di muka Bumi

Seperti yang diyakini oleh ummat muslim selama ini bahwa salah satu misi yang diemban oleh Rasulullah Muhammad SAW adalah menggiring ummat manusia dari kehidupan kegelapan menuju kehidupan yang terang-benderang


Kegelapan yang dimaksud adalah kondisi tanpa cahaya sehingga manusia yang ada pada kondisi gelap ibarat orang buta karena tidak ada yang membantu penglihatan sehingga bergerak tidak leluasa dan hanya bisa meraba untuk memastikan objek yang ada di sekitar

Inilah gambaran kehidupan manusia yang serba kacau dan tanpa kepastian. Segala yang ada hanya berdasarkan dugaan dan persangkaan belaka

Kondisi kegelapan inilah yang dalam surah Al-Qadr diumpamakan malam

Dengan diutusnya Rasullullah Muhammad SAW dengan membawa Al-Qur’an sebagai penuntun ibarat cahaya bagi orang-orang yang hidup dalam kegelapan malam tersebut

Inilah makna dari malam yang lebih baik dari seribu bulan

Bukan berarti pada malam tersebut ada seribu bulan keluar dari orbitnya masing-masing pada semesta raya ini lalu berkumpul menjadi satu untuk menyinari bumi. Hal ini sangat mustahil karena bertentangan dengan hukum alam yang telah menjadi ketetapan Allah SWT

Cahaya bulan hanyalah sinar redup yang tidak terlalu terang karena berasal dari pantulan sinar matahari yang secara fitrah akan menyinari bumi jika matahari telah terbenam.


Namun, meskipun cahaya bulan hanyalah sinar redup tapi cukup membantu penglihatan di kala malam

Bayangkan jika ada seribu cahaya redup yang bersumber dari seribu bulan dalam satu malam, pasti akan menghasilkan cahaya yang cukup terang untuk menyinari bumi di waktu malam

Sinar yang cukup terang untuk melewati malam hingga saatnya tiba bagi matahari yang merupakan sumber cahaya utama untuk terbit menyinari bumi

Inilah makna ayat terakhir dari surah Al-Qadr

Akhir dari misi dakwah perjuangan Rasullullah Muhammad SAW dalam mengeluarkan ummat manusia dari kondisi kegelapan menuju kondisi terang-benderang adalah tegaknya kerajaan Allah di muka bumi yakni Madinatul Munawarah sebagai kota terang Allah

Demikian makna yang tersirat dari surah Al-Qadr secara keseluruhan

Maka Lailatul Qadar adalah malam, kondisi kegelapan yang telah menjadi ketetapan Allah SWT bahwa pasti akan berganti menjadi terang yang diawali dengan bangkitnya seorang Rasul yang akan membawa perubahan bagi ummat manusia yang selama ini hidup dalam kondisi kebodohan penuh kezaliman menjadi hidup yang serba berdasarkan ilmu Tuhan untuk mewujudkan kehidupan yang damai sejahtera


Gabriel Aly Bhaskara

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama

Saran dan Masukan