Lagi-Lagi Manusia
Teodisi.com : Seluruh materi di alam semesta beraktivitas dengan prosedural pasti, dan dapat dipelajari oleh manusia.Semuanya berjalan dengan sistem yang rapi dan akurat, tidak merugikan pihak yang menjalankannya.
Sejatinya, manusia adalah makhluk tuhan yang sempurna. karena telah dibekali dengan sarana yang mumpuni. Sebagai anugrah utama. yang membedakannya dengan tumbuhan dan hewan.
Dengan sarana itu pula, manusia mampu menentukan kualitas hidupnya sebagai pelayan maupun pemelihara ekosistem di bumi.
Termaktub dalam kitab suci, bahwa langit dan bumi telah ditetapkan untuk tunduk dan patuh kepada sang Tuhan. Adapun wujud konkritnya tatkala benda-benda langit tidak saling bertabrakan antara satu dengan yang lain.
"Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada Allah, juga matahari, bulan, bintang, gunung-gunung, pohon-pohon, hewan-hewan yang melata, dan banyak di antara manusia? Tetapi banyak (manusia) yang pantas mendapatkan azab. Barang siapa dihinakan Allah, tidak seorang pun yang akan memuliakannya. Sungguh, Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki." (Al-Hajj 22: Ayat 18)
Ayat di atas memaparkan proses tunduk patuhnya langit beserta planet-planet, matahari, bulan dan bintang-bintang. Semua beredar menurut ketentuan yang sudah ditetapkan.
Lalu Bagaimana dengan Manusia?
Di bumi manusia berada, sebagai makhluk dinamis yang berbeda dengan makhluk lainnya. Manusia berperan penuh dalam menjaga kesetimbangan dan ekosistem di bumi.
Maka pertanyaan mendasar, sudahkah manusia melaksanakan perannya untuk menjaga bumi?
"Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Janganlah berbuat kerusakan di bumi!" Mereka menjawab, "Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan" (Al-Baqarah 2: Ayat 11)
Secara kontekstual, Allah tidak sedang menegur tumbuhan ataupun hewan melainkan menegur manusia. Sebab yang berperan penuh dalam hal pengrusakan adalah manusia. Oleh karenanya ayat tersebut ditujukan kepada manusia secara langsung untuk tidak melakukan kerusakan di bumi.
Lalu, benarkah manusia telah berbuat kerusakan di bumi? Lantas apa tolak ukurnya?
Kerusakan yang Ditimbulkan Manusia
Maraknya penggundulan hutan, hingga terjadinya erosi maupun sedimentasi tanah. Deforestasi (penebangan pohon) yang ugal-ugalan menjadi cikal bakal banjir bandang juga diakibatkan oleh ulah manusia.
Baca Juga : Apakah Musyrik Itu ?
Aktifitas manusia yang memicu bencana alam seperti gempa bumi, penggunaan bahan peledak dinamit, nuklir, dan bom berkekuatan besar. Bahkan lahan tambang seperti di Freeport Papua, umumnya digali dan terus digali hingga menjadi longsor dan terjadi perubahan pada struktur tanah dan bebatuan.
Setelah gempa bumi, maka rawan terjadi tsunami yang diakibatkan adanya pergesekan lempeng bumi.
Itulah beberapa bentuk kerusakan yang diakibatkan oleh ulah manusia, sehingga Allah kembali mengingatkan manusia dalam firmanNya.
"Ingatlah, sesungguhnya merekalah (manusia) yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari."( Al-Baqarah 2: Ayat 12)
Kata Allah dalam ayat di atas “Ingatlah” ini menandakan sebuah penegasan. Manusia lupa jati dirinya sebagai pengelola bumi, sehingga secara tidak sadar amupun sadar banyak melakukan kerusakan. Maka benarlah Allah dengan segala Firman-Firman-Nya.
.Sudah menjadi hukum kausalitas tatkala bumi dirusak, maka akan menimbulkan dampak yang signifikan.
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) ."(Ar-Rum 30: Ayat 41)
Allah menghendaki agar kita merasakan sebagian dari akibat perbuatan tangan-tangan yang tak bertanggung jawab.
Maka tatkala manusia ditimpa bencana, seharusnya introspeksi diri. Menjadikan bencana sebagai sarana untuk sadar diri, mawas diri dan yang paling penting tahu diri.
Baca Juga : Sejak Kapan Anda Beriman ?
Hingga muncul pertanyaan di benak kita, sudahkah kita menjadi manusia seutuhnya? Menjadi wakil Tuhan, menjadi pelayan sebagai bentuk terima kasih kita kepada yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya.
Lagi-lagi manusia…
Penulis: Aron
Editor: Harun
Posting Komentar