Ironinya Ramadan dianggap kebanyakan orang beragama islam adalah bulan setan dikerangkeng, agar manusia bisa khusyuk menjalankan puasa, padahal perlu dipahami setan secara fungsi diciptakan Allah untuk menggoda manusia seolah jadi disfungsi, setan manakah yang dimaksud? Dari luar atau dalam diri manusia?
Namun banyak juga orang beragama
islam menganggap bahwa puasa dibulan ramadan itu dapat menggugurkan dosa dan
melipatgandakan pahala, seperti orang yang timbangan dosanya berat maka bulan
ramadan lah ia akan menambah pahala dengan mengurangi beban dosa, ibarat orang
bajunya kotor dipakai 11 bulan dicuci 1 bulan nanti jadi bersih lagi tapi
anehnya diujung ramadan hendak makai baju baru. Janganlah kita berpikir picik
dalam mengabdi.
Baca Juga : Ramadhan sebagai Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar Bagian 1
Mari kita kembali maksimalkan
pikiran kita, jika saudara ingin mengemudi pesawat, belajarlah dengan orang
sudah mahir menjalankannya karena dia sudah pernah dalam proses belajar, jika
saudara ingin sorga, tirulah siapa yang sudah jelas ahlul sorga, sebab semua
ada ilmunya. Jangan kita menjadi orang yg mengikuti kebanyakan orang, sebab
bisa saja itu menjauhkan kita dari jalanNya.
Biar kita paham perhatikan Al
Qur'an surah Al Ahzab ayat 21 :
لَقَدْ كَا نَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ
اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَا نَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَا لْيَوْمَ الْاٰ خِرَ
وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا ۗ
laqod kaana lakum fii
rosuulillaahi uswatun hasanatul limang kaana yarjulloha wal-yaumal-aakhiro wa
zakarollaaha kasiiroo
"Sungguh, telah ada pada
(diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang
mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat
Allah."
Jawabannya sangat simple, tapi
tidak semudah yang dikatakan, hanya cukup mencontoh RasulNya sebagai panutan
terbaik. Manusia takkan pernah tahu apa yang menjadi perintah, larangan, yang
disukai, yang dibenci serta kehendak dan rencana Allah tanpa seorang
mediator/juru bicaraNya. Jadi makna kemuliaan bulan ramadan sebagai simbol
untuk mengenang bahwa dahulu perjuangan Rasulullah Muhammad ditandai turunnya
wahyu pada bulan ramadan dimulailah kisah Rasul dan orang bersamanya berproses
untuk menahan diri, meleburkan diri dengan Sang Pencipta dan merubah diri
menjadi pribadi yang baru, agar tujuan diutusnya Rasul tergenapi, disinilah
titik akhir ramadan.
Spesial yang kedua Ramadan karena
didalamnya ada Lailatul Qadar. Apakah itu lailatul qadar? Secara translate
langsung dari arab ke indonesia "lail" adalah malam dan
"qadar" adalah ketentuan, takaran, ukuran. Sering juga disebut malam
kemuliaan, sebab tertera pada Al Quran. Perhatikan ayatnya
"Sesungguhnya Kami telah
menurunkannya Al-Quran pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam
kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu
turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur
segala urusan.
Malam itu penuh kesejahteraan
sampai terbit fajar," (QS. Al-Qadr [97]: 1-5).
Malam lailatul qadar disebutkan
lebih baik dari 1000 bulan. Ini mesti kaji dengan baik dan benar agar kita dpt
mengerti maksudnya. Apakah bulan yang dimaksud adalah bulan kalender atau bulan
yang mengitari bumi saat malam? Jika dihitung kalender maka 1000 bulan kurang
lebih sama dengan 83 tahun 4 bulan. Tapi jika dihitung dengan 1000 bulan yg
mengitari bumi saat malam maka bumi saat gelap pun akan menjadi terang
benderang, sebab satu saja pantulan sinar matahari dapat menyinari bagian gelap
gulita
Menurut hadis Aisyah tentang
lailatul qadar yang diperawikan H.R Bukhari, Rasulullah bersabda "Carilah
Lailatulqadar itu pada tanggal ganjil dari 10 hari terakhir bulan
Ramadan,". Apabila mengacu pada petunjuk Beliau tersebut, malam
Lailatulqadar akan jatuh pada malam-malam tanggal 21, 23, 25, 27 atau 29
Ramadan 1442 H. Jika dilihat dari penanggalan masehi, maka malam Lailatulqadar
akan jatuh pada salah satu di antara malam 3, 5, 7, 9, atau 11 Mei 2021.
Dalil lainnya sama di riwayatkan
Aisyah
"Saat memasuki sepuluh akhir
Ramadan, Rasulullah fokus beribadah, memperbanyak ibadah di malam hari, dan
membangunkan keluarganya untuk beribadah," (HR Al-Bukhari).
Ada Juga dari riwayat Ubay bin
Ka'ab
"Lailatul qadar itu adalah
malam ketika Rasulullah memerintahkan kami untuk menegakkan salat di dalamnya.
Malam itu adalah malam yang cerah. Tanda-tandanya ialah, pada pagi harinya
matahari terbit berwarna putih tanpa sinar yang terik menyilaukan" (H.R.
Muslim).
Kalau kita memahami lailatul
qadar dari malam fisik, maka makna/hikmah tersembunyi tidak akan kita temui,
sebab siapakah orang mengatakan dari dahulu sampai sekarang pernah mendapat
malam itu? Kalaupun ada, apa efeknya kepada manusia lainnya? Tiap tahun umat
beragama islam menemui ramadan jika merujuk tahun hijriah sudah 1442 kali.
Sekali lagi jangan kita ibadah
berpikir picik, bahwa jika melaksanakan shalat dimalam itu dapat pahala 83
tahun apalagi dibulan ramadan pahalanya dikali 10, 1 huruf 10 kebaikan dunia
namun dikali 10 lagi berarti bernilai 100 pahala.
Mari kita rincikan secara ilmiah,
jika hitungannya pahala, Dalam Kitab Majmu Al-Ulum wa Mathli'u an Nujum dan
dikutip oleh Imam ibn 'Arabi dalam mukaddimah Al-Futuhuat al-Ilahiyah, Imam
Syafi'i menyatakan jumlah huruf-huruf dalam Al-Qur'an sebanyak 1.027.000(satu
juta dua puluh tujuh ribu) huruf. Ini berarti 1.027.000 akan dikalikan 10 jika
berhasil mengkhatam sekali kita akan mendapatkan pahala sebesar 10.270.000,
bagaimana jika khatam sampai 10kali?.
Belum pahala ibadah lainnya, puasa sebelum ramadan, puasa syawal, belum
dikalikan pahala malam 10 malam ganjil terakhir. Lalu apa membuat kamu ragu
masuk sorga jika tolak ukurnya pahala?
Baca Juga : Prasangka Pintu Dosa
Kalau hitungannya pahala kamu
masuk sorga diketahui lalu kamu tak tahu bagaimana dosa mengurangi pahala itu
jelas tidak adil. Seandainya dosa jika manusia sekali berdusta dapat mengurangi
100 juta pahala apakah ada manusia yang masuk sorga pasca Rasulullah?
Meski dalam 10 hari ganjil terakhir
kita rajin beribadah malam, ikut membangunkan keluarga, menunggu saat malam yg
cerah, cuacanya bersih lagi terang seakan-akan ada rembulannya, tenang, lagi
hening; suhunya tidak dingin dan tidak pula panas. Selain itu, tiada suatu
bintang pun yang dilemparkan pada malam itu sampai pagi hari, dipagi harinya
matahari terbit dalam keadaan sempurna, tetapi tidak bercahaya seperti biasanya
melainkan seperti rembulan di malam purnama, Siapakah orang yang mendapati
lailatul qadar dari dalil perawi tersebut diatas?
Mari kita hubungkan dengan proses
nuzulul quran dengan lailatul qadar, jika nuzulul quran adalah proses turunnya
petunjuk kepada Rasulullah setelah itu pada orang beriman untuk menjalankan
perintah serta mewujudkan kehendak dan rencanaNya dari kondisi manusia yang
gelap penuh kezaliman dibawa menjadi terang benderang/hidup berdasarkan
petunjuk hidup Allah, penuh kedamaian, keselamatan, aman, tentram serta
sejahtera.
Maka lailatul qadar adalah
personifikasi kehidupan orang beriman disaat kondisi manusia hidup tidak dengan
petunjuk dan sistem hidup yang sudah ditetapkan. Meski dalam gelap orang
beriman tetap bisa melihat dengan jelas mana yang haq/benar dan batil/salah,
saat yang bersaman juga Dia Sang Raja Alam Semesta mengirim kekuatan besar
kepada diri orang beriman atas kesadarannya mengabdi dengan ikhlas,
memperjuangkan Islam hingga memenangkan Islam, dalam sejarah tak ada RasulNya
diutus berperang dikalah atau gagal menegakkan hukumNya, sehingga dengan
hukumNYA akan mengatur segala urusan lingkup hidup manusia.
Ini sangat berhubungan dengan
Surah Al Qadr ayat 4-5, ujung perjuangan Rasul adalah kemenangan, hukumNya
telah berlaku kepada manusia diawali dengan bangsa itu diutus Rasul, yang
sifatnya menyejahterakan hidup manusia, tak gap yang besar antara kaya dan
miskin, sebab awal kemungkaran manusia karena hidup tidak sejahtera. Matahari
terbit adalah simbol yang ditunggu makhluk ciptaanNya, tumbuhan, hewan dan
manusia memerlukan sinar mentari itu untuk hidup. Pergiliran antara malam ke
siang ditandai dengan terbitnya matahari. Inilah maksud Rasulullah Muhammad
mengantarkan bangsa arab hidup dari kondisi jahiliyah/bodoh penuh kezaliman
berubah menjadi kehidupan damai sejahtera, kota terang Allah atau Madinah Al
Munawwarah.
Bumi Tuan Semesta Alam
5 Mei 2021
RP.
Posting Komentar